HOME  |  SEJARAH  |  BERITA  |  ARTIKEL  |  SUSUNAN PENGURUS  |  ALAMAT  |  CONTACT US  |  FOTO GALERI  |
  BERITA SINGKAT

RAPAT KERJA DAERAH (RAKERDA) KELUARGA BUDDHAYANA INDONESIA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

RAPAT KERJA DAERAH (RAKERDA) KELUARGA BUDDHAYANA INDONESIA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Pada Hari  Minggu,  tanggal 14 Juli 2013 diadakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Keluarga Buddhayana Indonesia Provinsi Daerah Istimewa
Baca selengkapnya


WAISAK KONGRES WANITA INDONESIA 2013

WAISAK KONGRES WANITA INDONESIA 2013

Salah satu hari raya Agama Buddha adalah hari raya Trisuci Waisak. Kata “Waisak” sendiri berasal dari bahasa Pali “Vesakha&
Baca selengkapnya


SOSIALISASI BIMBINGAN PRANIKAH DAN MUSYAWARAH DAERAH WBI PAPUA BARAT

SOSIALISASI BIMBINGAN PRANIKAH DAN MUSYAWARAH DAERAH WBI PAPUA BARAT

Kebahagian dalam perkawinan/ pernikahan  tidak bisa diukur dari mewahnya pesta perkawinan. Usai  resepsi bukan berarti perkawinan sud
Baca selengkapnya


WAISAK KONGRES WANITA INDONESIA 2013


Salah satu hari raya Agama Buddha adalah hari raya Trisuci Waisak. Kata “Waisak” sendiri berasal dari bahasa Pali “Vesakha” atau di dalam bahasa Sansekerta disebut “Vaisakha”. Kata “Vesakha” diambil dari bulan dalam kalender buddhis yang biasanya jatuh pada bulan Mei kalender Masehi.
Disebut Trisuci Waisak, karena memperingati tiga peristiwa penting, yakni kelahiran Pangeran Sidhartha Gautama, tercapainya penerangan sempurna oleh Pertapa Gautama, dan mangkatnya  Buddha Gautama. Tiga kejadian tersebut—kelahiran, penerangan, mangkat — terjadi pada hari yang sama ketika bulan purnama di bulan Waisak.


Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bersama Wanita Buddhis Indonesia pada hari Sabtu tanggal 1 Juni 2013 mengadakan Perayaan Waisak yang ke 2557 Buddhist Era,  di gedung KOWANI, Jalan Imam Bonjol no 58  Jakarta.  Dihadiri oleh Pembimas  DKI Jakarta  Bpk. Sutarso, S.Ag, MM, Ketua Umum Kowani Dr. Dewi Motik Pramono Msi,  Biksuni Bhadra Pranidhana dan Biksuni Bhadra Nimita dari Sangha Agung Indonesia, Dr. Oneng Nurul Bariyah M.Ag perwakilan dari agama Islam, Romo Setio Wibowo perwakilan dari Agama  Katholik, Ibu Pendeta Martha Iskandar perwakilan  dari Agama Kristen,  Romo Tandjung Kartawidjaja dari Pengurus Pusat Majelis Buddhayana Indonesia, Ibu Healthy Sutjiawan dari Warga Usia Lanjut Bahagia, Ibu Prajna Paramita dan Ibu Ratna Liesnajanty Suwandi (Leony) yang pernah mewakili WBI di Kowani,  rombongan ibu-ibu dari WBI Provinsi Banten,  Ibu Lenny dari Ikatan Sarjana dan Professional Buddhis Indonesia (Siddhi), perwakilan dari SEKBER PMVBI  (Pemuda Buddhayana),  dan ibu-ibu dari organisasi anggota KOWANI.


Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu Wanita Buddhis Jaya, sambutan dari  Ibu Harijati Hemadharmi sebagai ketua panitia pelaksana,  doa pembukaan oleh Biksuni Bhadra Nimita,  renungan waisak oleh Biksuni Bhadra Pranidhana diselingi lagu-lagu Buddhis dan doa penutup oleh Biksuni Bhadra Nimita, kemudian kata sambutan dari  Ketua Umum WBI Ibu Metta Suri Citradi, yang menuturkan bahwa Buddha mengasihi kita bahkan semua makhluk, seyogyanya kita saling mengasihi agar tercipta damai dalam diri masing-masing, yang akhir menciptakan perdamaian dunia,  Pembimas DKI Jakarta Bp. Sutarso S.Ag, MM, yang mengutarakan  Organisasi wanita lintas agama di Indonesia berperan sangat penting untuk menciptakan ide dan gagasan serta sebagai teladan organisasi–organisasi yang lain untuk menciptakan keharmonisan antar umat beragama. Ibu Dr.Dewi Motik Pramono Msi, Ketua Umum KOWANI, yang menegaskan bahwa keanekaragaman Keyakinan Agama, bukan berarti harus berbeda dan saling tidak peduli  satu sama lainnya. Pentingnya kebersamaan dan dorongan untuk menyatukan visi dan misi untuk kepentingan Negara yang akhirnya akan tercipta kedamaian dunia.


Acara ditutup dengan penyalaan lilin pancawarna, ucapan selamat dari perwakilan agama Islam, Katholik, Kristen dan foto bersama semua undangan.(MSC)


PEREMPUAN DAN DEMOKRASI DALAM PERSPEKTIF AGAMA BUDDHA
Krishnanda Wijaya-Mukti

Pendahuluan
Sistem kasta dan patriarkat memperlakukan perempuan seperti kaum sudra dan budak. Hukum Manu mencabut hak perempuan dalam agama dan kehidupan spiritual. Dengan latar belakang ini Raja Pasenadi merasa kecewa ketika istrinya melahirkan anak perempuan. Namun Buddha berkata kepadanya, bahwa seorang anak perempuan dapat menjadi keturunan yang bahkan lebih baik daripada laki-laki (S. I, 85). Apa pun jenis kelaminnya, manusia dilahirkan ...

baca selengkapnya


NASKAH PKDRT
METTA SURI CITRADI

Kemanapun seseorang pergi ia pasti rindu untuk kembali ke keluarga masing masing, terutama jika merasa tidak aman atau kurang sehat. Karena keluarga merupakan tempat berlindung yang dapat  memberikan rasa aman,  dimana setiap anggota keluarga bisa saling mengasihi, belajar bertanggung jawab dan tempat belajar memelihara prinsip moral.


Awal terbentuknya keluarga adalah pertemuan dua orang yang mempunyai sifat, pen...

baca selengkapnya