RAPAT KERJA NASIONAL KE-IV WANITA BUDDHIS INDONESIA
STIAB SMARATUNGGA AMPEL BOYOLALI -JAWA TENGAH, 17-20 MEI 2012

Wanita Buddhis Indonesia (WBI) kembali mengadakan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) yang ke IV dengan Tema “Meningkatkan Peran Wanita Dalam Ketahanan Ekonomi dan Keluarga Menuju Kesejahteraan Bangsa” , dengan mengambil tempat di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha SMARATUNGGA – Ampel, Boyolali, Jawa Tengah pada tanggal 17 Mei - 20 Mei 2012 yang dihadiri oleh 74 peserta dari 14 (empat belas) propinsi yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, DI Yogjakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan Papua serta Jawa Tengah sebagai tuan rumah. Demikian Laporan dari Ketua Panitia, Ibu Berinah Bong, yang pada kesempatan ini diwakili oleh Ibu Sherly Yuliany, Sekretaris WBI Pusat. Beliau mengharapkan apa yang akan disampaikan oleh Sangha Agung Indonesia (SAGIN), Kementerian Agama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dapat bermanfaat bagi Para peserta RAKERNAS IV.
Pembukaan RAKERNAS ke IV WBI kali ini memang lain daripada yang lain yakni WBI Gunung Kidul dari Provinsi DI Yogyakarta, mempertunjukkan kepiawaiannya yang luar biasa dengan Gamelan Karawitan kemudian dilanjutkan oleh persembahan Tari Gambyong dan Pembacaan Ayat Dharmapada oleh mahasiswi STIAB Smaratungga – Ampel.
Maksud diadakan Rakernas WBI kali ini di daerah yang begitu menyatu dengan alam dan suasana udara yang segar, bebas dari polusi udara dan Ibu-ibu WBI damengenal lebih dekat asal mula guru-guru Agama Buddha yang ditempatkan di daerah-daerah, dan mengetahui akar tempat mencetak para Bhikkhu/Bhikkhuni di tanah airnya sendiri. Demikian yang disampaikan oleh Ketua Umum PP WBI, Ibu Metta Suri Citradi pada acara Pembukaan RAKERNAS IV WBI. Beliau melanjutkan lagi bahwa RAKERNAS ini sangat penting untuk meninjau kembali apa yang telah kita lakukan dan apa rencana kegiatan yang akan datang dikarenakan peran Ibu sangat penting bagi keluarga (sebagai orang yang paling dekat dengan anak-anaknya), sebagai pilar wihara dan pilar bangsa. Dewasa ini, banyak Ibu- ibu lebih aktif sebagai pelaku ekonomi untuk menunjang keluarga. Ibu-ibu WBI juga diharapkan dapat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa. Apa yang didapatkan di Rakernas ini dan dapat ditularkan/disampaikan kepada teman-teman di daerah masing-masing baru dapat dikatakan RAKERNAS nya berhasil. Demikian Ibu Ketua WBI menutup sambutannya pada acara Pembukaan RAKERNAS IV tersebut.
Selanjutnya sambutan Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia pusat Bapak Sudhamek AWS yang pada kesempatan ini diwakili oleh Romo Katman menyampaikan bahwa RAKERNAS ini merupakan program kerja WBI untuk mengevaluasi kerja WBI. Peran Wanita sangat penting dalam meningkatkan Ketahanan Ekonomi dan Keluarga menuju kesejahteraan Bangsa. Diharapkan WBI dapat meningkatkan perannya dan lebih aktif dalam kegiatan yang sesuai dengan cita-cita Buddhayana yang Non Sektarian dan menjunjung tinggi kebersamaan dalam pluralisme. Beliau menambahkan cerita tentang Kujutara, seorang pelayan yang begitu setia, setelah mendengar Dharma dari Buddha, Kujutara mengulang kembali Dharma tersebut kepada ibu-ibu. Sehingga ibu-ibu dapat mengenal Dharma melalui pelayan tersebut. Para ibu memiliki potensi yang setara dengan kaum laki-laki di dalam spiritual.
Sambutan Menteri Peran Perempuan dan Perlindungan Anak, Ibu Linda Amalia Sari Gumelar,S.IP, yang diwakili/dibacakan oleh Ibu Suntari (WBI Jepara) –Pertumbuhan ekonomi yang berkembang akan menunjang peran serta wanita dalam meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga. 60,7% peran perempuan dalam industri sangat signifikan. organisasi perempuan juga dapat menunjang peran perempuan dalam usaha-usaha yang inovatif, kreatif. Sebagai katalisator,organisasi perempuan membantu Pemerintah dalam mengaktualisasi dini, peserta diharapkan dapat membuka diri karena ini merupakan jendela informasi.
Bhante Nyanasuryanadi Mahathera selaku Ketua Umum SAGIN dan juga Ketua Yayasan STIAB Smaratungga menyampaikan bahwa STIAB ini berdiri Tahun 1986 dan mengharapkan dengan diadakannya RAKERNAS WBI di Ampel dapat memberikan inspirasi kepada para peserta RAKERNAS WBI. Peran perempuan harus mendominasi secara bertahap dari waktu ke waktu dan harus ditingkatkan pemahamannya dalam membimbing anak-anak secara dini – di lembaga Pendidikan khususnya Buddhis. Ibu-ibu jangan lengah dalam membina anak-anak dalam pendidikan Buddhis. Ibu-ibu harus mengenalkan hal-hal baik yang enak maupun tidak enak kepada anak-anak. Beliau mengharapkan WBI dapat mendampingi para pemuda Buddhayana dalam berkegiatan.
Selanjutnya Pemukulan Gong oleh Ketua WBI Pusat di dampingi Bhante Nyanasuryanadi Mahathera, Ketua Sangha Bhikkuni Sangha Agung Indonesia - Nyana pundarika, Para Samaneri dan Anagarini, Ketua MBI pusat yang diwakili oleh Romo Katman, Ketua WBI Jawa Tengah dan disaksikan oleh seluruh peserta RAKERNAS ke IV WBI sebagai tandanya bahwa RAKERNAS IV WBI resmi dibuka.
Setelah selesai pembukaan, Bhante Nyanasuryanadi Mahathera langsung memberikan pembekalan tentang “Meningkatkan Peran Wanita dalam Ketahanan Keluarga menuju Kesejahteraan Bangsa” Peran perempuan dipandang sangat rendah dan diperlakukan sangat tidak wajar di zaman pra-Buddha. Buddha dengan kebijaksanaan dan cinta kasih yang universal memberi kesempatan kepada kaum perempuan untuk menjalani kehidupan suci. Contoh nyata dengan pentabhisan Prajapati Gotami menjadi bhikkhuni pertama pada masa Buddha menghantarkan posisi wanita pada perubahan sehingga kedudukan wanita dalam masyarakat dipandang sama dengan laki-laki. Ketahanan keluarga adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materil dan psikis-mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan bathin.
Pada tanggal 18 Mei 2012, Program Pembinaan dari Dirtjen Bimas Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia – Drs. A. Joko Wuryanto, S.Sos. S.Ag. M.Si. M.Pd. memperkenalkan program Rupang Buddha masuk Keluarga. Hal ini sangat penting bagi WBI daerah yang dapat membantu umat Buddha di daerah agar dapat beribadah dengan tenang di rumah masing-masing.
Beliau memaparkan bahwa peran/Fungsi Organisasi WBI ada 4 (empat) yakni :
1. Pemersatu Wanita Buddhis Pusat dengan daerah : WBI pusat sebagai pemikir dan WBI daerah sebagai pelaksana dalam masyarakat yang senantiasa hidup rukun dan penuh kebersamaan dalam mengamalkan Buddha Dharma dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI.
2. Sarana Komunikasi : adanya umpan balik antara Pusat dan daerah baik secara internal (dengan organisasi WBI daerah lainnya) maupun eksternal (dengan organisasi di luar WBI)
3. Penyalur Aspirasi – Para anggota organisasi WBI menyalurkan pendapat/aspirasi untuk kepentingan organisasi dalam jangka waktu pendek, menengah dan panjang
4. Mitra Pemerintah : Pemerintah merupakan Pembina, pengayom, pengembangan Potensi bagi kehidupan WBI. Bapak Dirjen melanjutkan Pembentukan organisasi harus sesuai dengan dasar hukum yang berlaku di NKRI yakni sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Pada kesempatan ini, hadir pula – Direktur Urusan Agama Buddha bidang pendidikan – Bapak. Drs. Heru Budi Santosa MM memaparkan tentang Dharma Sekha dengan mengutamakan pendidikan melalui Kursus-kursus ( non formal) yang telah disusun secara sistematis dan selanjutnya akan sangat membantu pendidikan anak-anak Buddhis. Karena peran Ibu sangat dominan dalam pendidikan anak, dengan Dharma Sekha ini diharapkan dapat membantu membentuk keluarga yang Hita Sukaya.
Selanjutnya dari kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang di wakili oleh Ibu Dra. Sunarti,M.Sc, -Asisten Deputi Bid. Pengarustamaan Gender Bidang Ekonomi - menyampaikan Makalah “Meningkatkan Peran Wanita Dalam Ketahanan Ekonomi” dengan memaparkan program Pemerintah dalam pengembangan Industri Rumahan. Dengan menerapkan PPEP (Peningkatan Produktif Ekonomi Perempuan) intinya mengajak sinergi dengan Dinas-dinas di Propinsi, kabupaten sampai tingkat kecamatan. Isu Gender yang dikemukakan adalah memperhatikan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam mengembangkan Bisnis Industri Rumahan. Tiga jenis Industri Rumahan yakni Jenis Melati (kecil), Mawar (menengah) dan Anggrek (maju) diperkenalkan Beliau kepada para Peserta Rakernas sehingga Peserta Rakernas Wbi dapat mengerti dan menerapkan nya (yang sesuai) di daerah masing-masing. Beliau juga memberikan masukan yang sangat bermanfaat bagi WBI tentang fungsi koperasi dan UMKN - Usaha Mikro, Kecil dan Menengah sesuai dengan UU No. 20 tahun 2008.
RAKERNAS berlanjut dengan Laporan Kegiatan tahun 2010 – Mei 2012 dari setiap peserta mewakili daerah masing-masing. Pada saat ini, para peserta bisa saling mempelajari dan memahami serta mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan di daerah sendiri maupun di daerah yang lain.
Pada malam tanggal 18 Mei 2012 hadir di antara para peserta RAKERNAS – Ibu Parwati Soe
pangat, Sesepuh WBI, Ketua KBWBI, memberikan sedikit pembekalan buat WBI dengan mengemukakan penjelasan tentang Kesetaraan Gender antara Laki-laki dan perempuan dan Teori Androgini yang mengandung aspek Maskulin dan Aspek Feminin. Beliau merasa bangga sekali atas perkembangan WBI yang demikian pesat sampai ke daerah-daerah. Pada kesempatan ini, beliau memberi tips kepada WBI agar selalu menjaga dan mengembangkan 5(lima) faktor penting dalam Agama Buddha yakni : 1. Jasmani 2. Indria 3. Perasaan 4. Pikiran dan 5. kesadaran.
Keesokkan harinya tanggal 19 Mei 2012 merupakan hari terakhir para peserta berkumpul dan merumuskan bersama rencana kegiatan tahun 2012 – 2013. Beberapa rencana kegiatan yang diutarakan bersama antara lain Koperasi untuk ziarah ke Tanah Suci, memfasilitasi Program Rupang Buddha masuk keluarga, Kunjungan para sesepuh keluarga Buddhayana, Penghargaan kepada tokoh WBI/sesepuh di daerah atas pengabdiannya, seminar kesehatan dan pelatihan tentang pendidikan dan organisasi. Kesemuanya rangkaian kegiatan akan di rekap oleh panitia dan disebarkan di daerah.
Pada kesempatan ini, kami yakin para peserta sangat merasakan manfaat RAKERNAS ini dengan diskusi bersama, berbagi pengalaman bersama. Rasa kebersamaan secara kekeluargaan di antara para peserta RAKERNAS dengan Para Pengurus WBI Pusat dan dibantu Para Panitia yang dengan tulus menyediakan segala perlengkapan untuk RAKERNAS tersebut.
Apresiasi yang setinggi-tinggi nya buat Bhante Sasanabodhi, S.Ag., M.Hum yang telah mengizinkan WBI melaksanakan RAKERNAS di STIAB Smaratungga – Ampel, para Ibu WBI se-propinsi Jawa Tengah yang menyediakan makanan Vegetarian yang luar biasa enaknya dan Para Mahasiswa-mahasiswi STIAB Smaratungga, pemuda Buddhayana Jawa Tengah yang sangat membantu dari awal acara sampai berakhirnya RAKERNAS tersebut. Para Pengurus WBI Pusat yang telah mengatur segalanya sehingga RAKERNAS ini dapat terlaksana dengan baik. Tentu saja tanpa para peserta RAKERNAS yang luar biasa yang mau saling berbagi dan menerima pengalaman, RAKERNAS ini tidak akan terlaksana dengan baik. Pengetahuan dan masukan dari para Nara sumber diharapkan dapat ditularkan dan diterapkan di daerah masing masing.
Selamat jalan Saudaraku semua. Semoga selamat sampai di daerah masing-masing. Sampai jumpa di Munas WBI tahun 2013.
Cerita Di balik Gamelan Karawitan :
Di antara penyanyi Karawitan ada seorang WBI cilik – Putri cantik dari Ibu Rini Wulansari (WBI Gunung Kidul) – Utsa Dharma Suri, umur 8 tahun, kelas 2 SD. Neneknya (Ibu Ngatini) dan Orang tuanya dan Budek nya (Bu Biwik) – merupakan WBI dan artis Gamelan. Sejak dalam kandungan ibunya, Utsa telah dikenalkan dengan alat musik Gamelan ini karena Orang tuanya adalah pengurus Karawitan tersebut. Karawitan adalah ciri khas Jawa Tengah. Pada kesempatan ini, Utsa bercerita tentang cita-citanya mau jadi penyanyi Gamelan – atau Pesinden/ seniwaty. Semoga cita-cita Utsa dapat tercapai. Semoga Gamelan Karawitan dapat bertahan dan lestari terus dan dapat melahirkan WBI yang berkwalitas dalam seni budaya dan organisasi. (Ang)
PEREMPUAN DAN DEMOKRASI DALAM PERSPEKTIF AGAMA BUDDHA
Krishnanda Wijaya-Mukti
Pendahuluan
Sistem kasta dan patriarkat memperlakukan perempuan seperti kaum sudra dan budak. Hukum Manu mencabut hak perempuan dalam agama dan kehidupan spiritual. Dengan latar belakang ini Raja Pasenadi merasa kecewa ketika istrinya melahirkan anak perempuan. Namun Buddha berkata kepadanya, bahwa seorang anak perempuan dapat menjadi keturunan yang bahkan lebih baik daripada laki-laki (S. I, 85). Apa pun jenis kelaminnya, manusia dilahirkan ...
baca selengkapnya
NASKAH PKDRT
METTA SURI CITRADI
Kemanapun seseorang pergi ia pasti rindu untuk kembali ke keluarga masing masing, terutama jika merasa tidak aman atau kurang sehat. Karena keluarga merupakan tempat berlindung yang dapat memberikan rasa aman, dimana setiap anggota keluarga bisa saling mengasihi, belajar bertanggung jawab dan tempat belajar memelihara prinsip moral.
Awal terbentuknya keluarga adalah pertemuan dua orang yang mempunyai sifat, pen...
baca selengkapnya


