HOME  |  SEJARAH  |  BERITA  |  ARTIKEL  |  SUSUNAN PENGURUS  |  ALAMAT  |  CONTACT US  |  FOTO GALERI  |
  BERITA SINGKAT

RAPAT KERJA NASIONAL III WANITA BUDDHIS INDONESIA

RAPAT KERJA NASIONAL III WANITA BUDDHIS INDONESIA


Terik matahari pulau dewata menyambut kedatangan Wanita Buddhis Indonesia yang akan mengadakan Rapat Kerja Nasional  pada  tang
Baca selengkapnya


PELANTIKAN WANITA BUDDHIS INDONESIA KABUPATEN SORONG PERIODE 2008-2011

PELANTIKAN WANITA BUDDHIS INDONESIA KABUPATEN SORONG PERIODE 2008-2011

Umat Buddha berkumpul di Hotel Mariat Jl. Achmad Yani Sorong untuk menyaksikan pelantikan Majelis Buddhayana Indonesia dan Wanita Buddhis Indon
Baca selengkapnya


SEMINAR PEMBINAAN KELUARGA HITAYA SUKAYA WANITA BUDDHIS INDONESIA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

SEMINAR PEMBINAAN KELUARGA HITAYA SUKAYA WANITA BUDDHIS INDONESIA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Hujan rintik menyambut kedatangan Wanita Buddhis Indonesia dari Pangkalan Bun, Palangkaraya dan Sampit di ruang serba guna Wihara Avalokitesvar
Baca selengkapnya


Artikel Wanita Buddhis Indonesia

NIKMATI MENJADI ENCIM
---

"Encim" Kedengarannya kata ini sangat konotasi bahkan terkesan negatif bagi kalangan tertentu. Sebutan ini mungkin bagi orang awam seperti sebutan untuk seorang wanita dengan etnis chinese.

Inikah salah satu indikasi akan pendiskriminasian satu kalangan tertentu? Jawabnya bisa iya namun bisa juga tidak, tergantung dari siapa, apa dan bagaimana orang tersebut meniliknya.

Tentu ada yang tidak suka jika mereka dipanggil encim, namun tidak bagi yang lain. Saya sendiri merasa OK saja disebut begitu, tidak sedikitpun saya merasa berkecil hati atau bahkan merasa terdiskriminasi.

Hmm...diskriminasi ya...kok bahasanya terdengar angker ya. Apa sih definisi dari diskriminasi itu sendiri? Diskriminasi adalah perbedaan perlakuan terhadap sesama. Perbedaan berdasarkan suku, agama, ras maupun jenis kelamin atau yang sering disebut gender. Jika dilihat dari sudut pandang Buddhism, diskriminasi berkaitan dengan karma.

Mungkin ada yang bertanya-tanya "loh.. apa hubungannya dengan karma?" Jawabnya sudah pasti! Kita semua tahu dari mana asal datangnya perasaan diskriminasi ini. Apapun yang kita alami, apapun yang kita kita rasakan (susah dan senang) semuanya adalah matangnya buah karma. Tanpa bisa berontak ataupun menolak kita dipaksakan untuk merasakan semua itu.

Apapun yang kita lakukan, pikirkan, katakan akan meninggalkan tilasan di pikiran kita, nah tilasan inilah yang disebut karma. Pikiran kita seperti kamera yang mampu merekam semua hal-hal yang kita lakukan. Jadi apapun yang kita rasakan akan perlakuan orang lain terhadap diri kita, itu sudah pasti karena dulunya kita berlaku seperti itu karena memori di pikiran kita memutar kembali apa yang sudah pernah direkam.

Dari mana diskriminasi ini dimulai? Coba cek deh masing-masing dari diri kita, terutama bagi mereka yang merasa tidak pernah mendiskriminasikan orang lain.

Diskriminasi itu salah satu perasaan yang melekat pada diri sendiri karena belum tentu orang lain merasa telah mendiskriminasi. Karena karma kita akan diskriminasi maka perasaan diskriminasi itu ada pada diri kita.

Lalu bagaimana caranya untuk menghapus diskriminasi itu sendiri? Satu-satunya cara adalah dengan tidak membeda-bedakan orang disekitar kita, mulailah dari diri sendiri dulu. Nah pasti masih juga ada yang berkilah "saya nggak pernah tuh mendiskriminasikan orang lain", coba deh lebih jeli melihat kedalam diri sendiri.

Kita masih sering bilang "ini anjing saya", "ini teman saya" atau apapun ini itu yang selalu dilengkapi embel-embel "saya".

Sangat jelaskan ternyata dalam keseharian untuk hal yang kecil pun kita cenderung membeda-bedakan antara milik saya dan yang bukan milik saya atau tidak ada hubungannya dengan saya.

Diskriminasi itu sendiri dimulai dari kata yang selalu diakhiri "saya", selanjutnya muncul pertanyaan "lalu harus bagaimana dong?". Kurangi atau malah hapus penggunaan kata "aku", "saya" dan lainya karena terkesan fokus terhadap diri sendiri atau yang kita kenal dengan kata egois.

Betapa indahnya jika kita bisa memikirkan, membantu, melayani yang lain dengan tulus tanpa melihat siapakah mereka yang kita bantu. Seperti seorang ibu yang menyayangi semua anaknya tanpa membedakan yang satu dengan yang lain, seperti itulah seharusnya kita terhadap semua mahluk. Lebih ekstrimnya, kita harus bisa menjadi ibu bagi semua mahluk.

Nikmati apapun yang kita miliki, bangga dengan hal sekecil apa pun yang kita lakukan untuk orang lain. Nikmati menjadi "encim"!

The more you give the more you get
"Buddha Dharma by definition is Happiness"